BERBAGI
ilustrasi

sorotbekasi.com – Kasus Sodomi terhadap anak-anak di bawah umur di berbagai provinsi berhasil dibongkar jajaran kepolisian. Dari hasil penyelidikan Polisi mengungkap ada sebanyak 87 anak laki-laki dari berbagai provinsi jadi korban pedofil seorang pria bernama Toni (28).

Pelaku ditangkap di Jambi dengan menipu para korbannya lewat media sosial.

“Dia (pelaku) buka akun Instagram, Instagram cewek, jadi banyak anak-anak itu yang suka. Bikin Instagram seolah-olah cewek, padahal cowok,” kata Kabid Humas Polda Jambi AKBP Kuswahyudi Tresnadi saat dihubungi wartawan, Selasa (20/3/18).

Dalam menjalani aksinya pelaku merayu korbannya untuk mengirimkan video dan gambar bugil. Para korban yang mengira pelaku seorang perempuan, akhirnya menuruti permintaan itu.

“Dirayu-rayu, dikirimilah gambar bugil sama videonya ke si tersangka itu anak-anak ini,” ujarnya.

Video dan gambar bugil itu lalu digunakan pelaku untuk mengancam korban. Gambar dan video bugil akan disebar jika keinginan pelaku tidak dipenuhi.

“Setelah dikirim, diancam, kalau nggak mau ngikutin kemauan si tersangka ini mau disebarkan videonya sama gambar-gambarnya anak-anak ini,” ujarnya.

Adapun usia para korban Toni berusia antar 15 sampai 17 tahun. Ada 4 korbannya yang berasal dari Jambi, sementara yang lainnya dari berbagai provinsi.

Dari hasil pendalaman yang melibatkan psikolog dalam kasus pedofilia, diketahui bahwa Toni memiliki kelainan jiwa sejak awal 2017.

Dalam pemeriksaan, Tony mengakui perbuatanya berawal dari melihat perilaku yang sama pada awal 2017. Itu sama dengan yang dilakukannya pada anak-anak di sejumlah tempat di Indonesia.

“Pelaku memiliki kelainan, dari hasilnya,” jelas Kasubdit empat Ditreskrimum Polda Jambi, AKBP Hendri Manurung, Senin (19/3).

Perbuatan pelaku dilakukan di Medan, Cirebon, Bandung, Surabaya, Semarang, Aceh dan wilayah lain, termasuk Jambi. Kasusnya masih dalam pendalaman kepolisian.

Hingga kini penyidik masih memeriksa tersangka dan menyita barang bukti empat unit ponsel berbagai merek milik tersangka, satu lembar bill hotel di Kota Jambi atas nama tersangka.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat 1 jo 76E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

Selain di Jambi Polisi juga berhasil menangkap pelaku sodomi anak di bawah umur di Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta), Sumatera Utara.

Kasat Reskrim Polres Tapanuli Selatan, AKP Ismawansa mengatakan pelaku berinisial SH ini terpaksa dilumpuhkan karena berupaya kabur saat ditangkap.

Dari pemeriksaan sementara, total korban sudah mencapai 20 anak. “Dari pengakuan pelaku, korbannya sudah 20 orang. Korbannya berusia mulai dari enam hingga 10 tahun,” ungkap AKP Ismawansa.

Dari 20 korbannya hanya 12 bocah yang mampu diingat SH. Sedangn delapan lainnya tidak diingatnya.

Isma mengatakan, aksi yang dilakukan SH tersebut terjadi sejak Juni 2017. Saat menjalankan aksinya tersebut SH terlebih dahulu mengajak para korban keliling kampung dengan menggunakan sepedamotor.

Setibanya di tempat sepi, SH pun kemudian mencabuli korbannya. “Lokasinya ada yang di semak-semak, rumah kosong, dan di sawah,” ungkapnya.

Usai melampiaskan nafsu bejatnya, SH pun kemudian mengancam korbannya untuk tidak menceritakan peristiwa tersebut. Bahkan, bunyi ancamannya tersebut SH tak segan-segan akan membunuh korbannya. Setelah dicabuli, para korban pun diancam akan dibunuh jika menceritakan kejadian itu kepada siapapun.

SH sendiri dibekuk petugas Satreskrim Polres Tapsel saat bersembunyi di salah satu tempat di Kecamatan Sipirok, Tapsel, Jumat (16/3/18). SH yang berusaha kabur sempat dilumpuhkan petugas dan mengalami luka tembak di bagian kaki.

Tindakan pelaku pedofilia jelas telah merusak moralitas dan masa depan anak-anak bangsa. Sebab apa yang dilakukannya akn terus menjadi memori yang melekat terhadap diri korban. Bayangkan jika ini terus berlanjut akan ada berapa banyak korban yang menjadi rusak atas perbuat pelaku.

Meski demikian para orang tua korban pelaku pedofil untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman pedofil di wilayahnya. Dan jika sang anak menjadi korban segera segera mencari pertolongan pihak profesional seperti kedokteran dan psokolog. Hal ini sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah korban mengalami gangguan perkembangan yang menyebabkan mereka menjadi pelaku pedofilia di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here